Minggu, 06 September 2015

Beda


dirimu, diriku
kita beda tapi tetap satu
hargai ini sebagai keindahan
sebab hal yang sama itu membosankan

dirimu, diriku
kita beda tapi sama yang dituju
merah, kuning, hijau, biru
semua ada dalam satu rambu

dirimu, diriku
walau beda dalam satu waktu
gelap selangit jadi menarik
dihias terang titik per titik

aku, kau, memang beda
disinilah indahnya kita
berbaur dalam satu rasa
berirama merayu semesta

Satu rasa satu warna, Kita beda tetap bersama.

Selasa, 01 September 2015

Epilog Kisah Kita





kau adalah sebuah luka
kau goresan yang ingin aku hapus
sebuah kata yang tak ingin lagi aku sebut

sebuah memori yang ingin kubuang jauh


yang pernah terindah kini jadi penyesalan
akhir yang tak mau kuulang lagi
bagaimana mungkin dapat kembali
mengaku sayangpun aku tak sudi


jangan tanyakan dendam ini
pun jangan meminta aku maafkan
tiada mampuku menjelaskan bahwa luka itu menyakitkan
namun dibenciku, kuyakin kau percaya


kubuang kenangan tentangmu
menjadi debu yang tertabur tanpa arah
mengalir di sungai tak bermuara
biarkan ini, menjadi epilog kisah kita.


Minggu, 24 Mei 2015

Senja Di Langit Kebar



Senja di langit Kebar
Angin berhembus menerpa dedaunan
Lonceng Gereja Berdenting
Mambruk terbang anggun di atas bumi Tambrauw

Udara semakin dingin
Awan-awan menutup cahaya senja
efek Magenta menghias langit
sebelah barat Manokwari seketika remang


Irama air mengalir deras menabrak bendungan Kaliapi
Suara jangkrik meramaikan hutan Anjai
Aroma khas pepohonan yang menggilitik hidung
Mutiara hitam bergantian pergi
keramaian sekejap menjadi sepi


Aku berdiri padang rumput
Sendiri menikmati sunyi di pedalaman Papua Barat
Merdu nyanyian alam mengisi sisa senja saat itu

Dan Malampun tiba
Langit hitam membungkus bumi
Mengganti senja yang telah pergi
Menutup cerita seharian

Aku masuk ke dalam rumah
berbaring di atas tikar
sisa peluh kuhempaskan di atas lantai
berharap bangun di pagi hari
Melewati kisah baru hari esok
untuk kutulis di senja berikutnya.


21 Mei 2015. Kebar, Papua Barat

Rabu, 15 April 2015

Paradise in Papuadise

Surga di belahan Timur Nusantara

Waktu menunjukkan Pukul 05.50 WIT, rasanya sudah hampir 2 jam di dalam pesawat. Terbang dengan ketinggian kurang lebih 5000 kaki, sesekali goyang, mungkin karena menabrak awan yang waktu itu cuacanya sedang kurang baik.
Kutengok dari jendela pesawat, perlahan langit menampakkan diri seiring terbitnya sang mentari. Aku menatap awan-awan yang sedang melayang  dengan bentuk beragam nan unik, tersusun indah seakan bertuliskan ucapan selamat pagi dunia.

Tujuan kami (awak dan penumpang pesawat) semakin dekat, Bandara Dominique Eduardo Osok, Sorong - Papua Barat. Ketinggian pesawat semakin berkurang diikuti suaranya yang semakin keras. Kulihat lagi dari jendela pesawat, kali ini aku melihat ke bawah. Belum lama aku menatap, telah tampak gugusan pulau kecil yang berderet tak beraturan namun sangat indah, dihiasi hijaunya pepohonan yang seakan sengaja di tabur di atas pulau. Inikah sambutan negeri papua untukku? Maha Suci Allah telah menciptakan pemandangan indah ini.

                                 Foto : Susianto, ST
Aku berjalan di padang rumput memperhatikan tata letak alamnya, dataran luas  yang dikelilingi hutan pegunungan terlihat bagai lukisan yang dibingkai dengan indah. Berdiri di tengah lahan terbuka yang langsung berhadapan dengan sang langit, membiarkan sinar mentari sore menyentuh dan meresap masuk ke pori-pori kulitku. Tiupan angin kencang menyambar rambutku seakan tak mau ketinggalan mempersembahkan atraksi keindahannya. Sang mentari hanya terdiam sesekali mengintip lewat celah-celah awan, ia terlihat sangat tulus melengkapi kemahsyuran bumi papua. This is Papuadise.


                                Foto : Safar, Lokasi : Pedalaman Atay, Tambrauw - Papua Barat



                                Foto : Susianto, ST Lokasi : Kars Painemu - Papua Barat
Kars Painemu, salah satu wahana yang mempersembahkan panorama indah di semesta papua. Laut membentang luas berwarna biru seperti langit sedang bercermin padanya, didandani dengan pantulan sinar matahari dan pulau-pulau kecil yang tersusun elok. Cantik nan alami, terhindar dari campur tangan manusia yang ingin mengubahnya dengan teknologi.
 
                                Foto : Susianto, ST Lokasi : Kars Painemu Papua Barat
                             
                                Foto : Susianto, ST Lokasi : Kars Painemu Papua Barat

Aku duduk di atas rerumputan, diam dan khusyuk menikmati pemandangan menakjubkan ini. Mahakarya Tuhan telah menganugerahi bumi dengan pemandangan luar biasa, membuatku semakin menyadari keagunganNya. Sempat terlintas di benakku, mungkin ini adalah percikan surga yang jatuh ke bumi. Aku sangat bersyukur atas nikmat sang pencipta yang sekali lagi Luar biasa.

Besar harapanku agar keindahan ini dilestarikan, dijaga, sebagaimana kita menjaga tubuh kita. Karena itulah salah satu bentuk hubungan kita sebagai manusia kepada alam. Semoga harapanku sama dengan harapan orang-orang yang telah menyaksikan keindahan alam ini, terlebih bagi pihak-pihak yang berkuasa atas negeri ini.

"kitorang dari lahir di sini, kitorang su minum dong pu Aer, su pake dong pu tanah, masa kitorang tra ada pu terima kasih?" 

Jayalah negeri Papua, jadilah kebanggaan bumi ibu pertiwi.

Sekian dan Terima kasih J .... Salam sapa dari Sorong, Papua Barat.












Minggu, 12 April 2015

Mimosa




Mimosa,
Primadona Kota Aimas
Cerminan seorang Putri dalam Kisah Raja Raja
Senyumnya indah walau hanya sedikit bicara

Mendekatimu bukan sekedar ambisi
Ini natural dari dalam sanubari
Entah darimana rasa ini
Datang begitu saja bagai hujan menjatuhi bumi

Kutahu cinta itu energinya dahsyat
Yang mengalaminya merasakan getaran hebat
Apalagi yang menyimpannya dalam-dalam
Rindu di hati meledak serupa zat Amomonia bertemu Asam

Kukejar lagi, dan lagi lagi kukejar
Hingga batas antara kita menjadi samar
Kegigihanku tak kalah dari Wright bersaudara
Si penemu pesawat yang berkali-kali jatuh dan terluka

Mimosa, begitu aku menyebutmu
Karna aku tak tahu siapa namamu
Kusapa kau namun hanya tersenyum ragu
Aku tak mampu membaca raut di  wajahmu

Bisakah kita bersua walau sejenak?
Aku hanya ingin mengenalmu
Kumohon jangan bilang tidak
Aku sangat ingin mengenalmu

Selasa, 06 Januari 2015

Rumah

Insya Allah ini.

Punya Rumah sendiri? itu impian semilyar umat manusia. ada yang menginginkan untuk membeli, atau membangun dari awal. ada yang menginginkan rumah mewah, sederhana asal nyaman, di tengah kota, di pinggir pantai, di atas bukit, di dalam hutan, itu sebagian dari banyak kriteria  rumah yang diinginkan manusia, sesuai selera.

kalo selera gua *sok logat jakarte loe tong*
kalo seleraku sih *alay*
kalau selera saya, yang sederhana tapi kelihatan mewah, di pinggir pantai yang ada bukitnya, terus di tengah kota yang ada hutan di sekelilingnya.  *njirr* *muke gile*

tapi bagi saya, gak ada yang lebih keren kalo rumah itu kita yang desain sendiri, yang ngatur bangunannya, yang nentuin letak strategisnya, pokoknya apa-apanya semau kita deh, keren gak tuh?
dan gambar di atas itu, ane yang desain. gimana? keren kan? ya gak mewah-mewah amat sih, tapi cukup buat gue dan keluarga gue, istri dan anak-anak gue, dan nyokap ama saudara-saudara gue bakal gue ajak tinggal di situ. *Insya Allah, Amin*


Rumah, bukan hanya tempat tinggal untuk kita, tapi semua cerita dalam hidup kita, dari situlah awalnya. Rumah adalah dunia milik kita dalam skala kecil, lingkungan mikro kita yang di mana kitalah yang berkuasa penuh di dalamnya. Rumah adalah teman yang selalu ada untuk kita, tapi kita tak selalu ada untuknya.
Jika kita jenuh dengan kehidupan di luar sana, jenuh dengan lingkungan luar yang sering tak sesuai harapan, kita bisa kembali ke rumah kita untuk beristirahat sejenak, menormalkan kondisi diri kita, pikiran, perasaan, dan melupakan sejenak masalah-masalah yang kita hadapi. karena kita tak selalu kuat untuk melawan semuanya, kita butuh jeda untuk mengembalikan keadaan.
Seperti Ikan terbang (ikan indosiar) yang melayang ke udara, sesekali dia kembali ke dalam air untuk bernafas, kemudian terbang lagi melihat dunia bebas.
Seperti itulah kita, rumah adalah tempat kembali ketika kita lelah dengan kehidupan luar. Rumah bisa jadi tempat beristirahat, tempat bercerita semua masalah yang dihadapi, tempat meluangkan semua keluh kesah kita, dan tempat untuk mengoreksi diri kita, serta mempersiapkan kembali diri kita untuk menghadapi kehidupan luar yang bebas, dan penuh tantangan.
Jadi buatlah rumahmu seperti temanmu sendiri yang selalu menemanimu di kehidupanmu, buatlah rumahmu senyaman mungkin untukmu, agar kau betah mendiaminya. karena rumah, adalah bagian dari hidup kita.



SEKIAN


Jln Inpres No.1 Kec Kajuara, Kab Bone, Sul-Sel

Aries Setiawan

Jumat, 02 Januari 2015

Baru latihan.

Selama ini cuma fokus belajar gambar pake AutoCad, baru kali ini belajar SketchUp, ya wajarlah kalau hasilnya begini... xixixixi...
 

                                                                                                       
                                         
Entah, jembatan ini mau dibangun di mana, eheheh...
sudahmi dulu deh, mauka dulu belajar tekun.
Wassalam.


Aries Setiawan A.Md